Connect with us

SukaSinema

Jemaine Clement Membangkitkan Komedi dalam Era Dramedy di ‘What We Do in the Shadows’

Serial TV

Jemaine Clement Membangkitkan Komedi dalam Era Dramedy di ‘What We Do in the Shadows’

Jemaine Clement Membangkitkan Komedi dalam Era Dramedy di ‘What We Do in the Shadows’

Jemaine Clement dan Taika Waititi sudah jelas mengetahui cara untuk bersenang-senang dalam pekerjaan mereka sebagai produser. Namun mereka sungguh menganggap serius salah satu aspek dalam What We Do in the Shadows. Meski penuh dengan komedi dan canda tawa, keduanya sangat menghormati peraturan seorang vampir.

“Banyak orang yang mungkin tidak akan peduli jika vampir berenang di laut,” ujar Taika Waititi seperti yang dilansir dari IndieWire. “Akan tetapi mereka tidak diperbolehkan. Mereka tidak boleh masuk ke dalam air laut, berdasarkan hukum vampir. Beberapa peraturannya begitu aneh hingga jika Anda meminta seseorang untuk menjelaskannya [di serialnya], orang-orang akan berpikir Anda berlebihan.”

“Salah satunya, jika Anda ingin mengusir seorang vampir dari desa Anda, curi kaos kakinya,” jelas Jemaine Clement sambil terkikik sendiri. “Isi kaos kakinya dengan bawang putih, ikat kaos kakinya, lalu buang itu ke sungai. Sang vampir akan merasa harus mengejarnya. Namun kemudian ketika ia mendapatkan kaos kakinya, isinya penuh dengan bawang putih.”

What We Do in the Shadows bukannya sebuah hibrid antara komedi dan drama atau bahkan komedi dan horror. Tidak ada pesan politik yang berlebihan ataupun percakapan kelas atas mengenai tampilan sinematik serial ini. Serial ini hanya lucu. Amat sangat lucu. Lalu, anehnya juga, peraturan-peraturan vampir yang ada justru membuatnya semakin lucu saja.

Ketika Jemaine Clement dan Taika Waititi membuat film cult dengan judul yang sama pada tahun 2014, ada pengalaman yang menarik. Jemaine ingat bahwa ia harus menjelaskan berulang kali mengenai peraturan vampir pada jajaran pemain dan krunya. Tidak boleh ada bawang putih. Tidak ada salib. Tidak ada cahaya matahari. Lalu jika para vampir terkena cahaya matahari, mereka tidak akan hanya mengernyit atau berkilau. Mereka akan langsung meledak dan mati. Ini adalah peraturan-peraturan yang dianggap sebagai hukum bagi Jemaine Clement dan Taika Waititi dan juga sekian banyak orang lain yang terobsesi dengan mitos vampir. Kedua orang itu pun sedikit terkejut bahwa tidak semua orang memiliki pengetahuan mereka mengenai vampir.

Pada awal musim dingin 2018, Jemaine Clement sudah mulai mendekati akhir masa produksi musim pertama What We Do in the Shadows. Vampir pun sudah menjadi budaya pop yang lebih terkenal, sehingga pengetahuan umumnya pun sudah lebih tersebar. Namun tetap saja, pada saat salah satu adegan tengah malam yang dibuat, Taika Waititi berkata bahwa membuat acara ini sangat sama seperti menjadi vampir. Karena mereka selalu syuting di dalam kegelapan – Jemaine Clement berdiri di belakang Taika Waititi, sutradara episodenya, dan meneriakkan kalimat alternatif untuk para pemain ketika mencoba lelucon baru di tempat.

“Jika saya mendengar sang aktor improvisasi, saya akan [memperbaikinya],” ujar Jemaine Clement. “’Mereka tidak bisa berenang!’ ‘Mereka tidak bisa melakukan itu!’”

Jemaine Clement berpikir bahwa limitasi dapat membantu dalam menciptakan komedi yang segar dan baru. Lagipula, peraturan yang ada juga berguna sebagai pengingat mengenai kemampuan makhluk-makhluk ini. Seperti contohnya, mereka bisa terbang.

“Ini berbeda,” ujar aktor Matt Berry yang memerankan Laszlo. “Ini yang membuat pekerjaannya berbeda, dan lebih penting lagi, ini yang membuat acaranya berbeda. Anda pikir mungkin akan mendapatkan situasi sitkom biasa. Lalu kemudian seseorang akan tiba-tiba terbang atau mereka akan terlempar ke tembok. Memang hal itu mungkin ingin Anda lihat langsung di dunia nyata atau sitkom, dan itu sungguh terjadi di [acara] ini.”

Hal ini juga menjadi salah satu hal yang menarik bagi Paul Simms, salah seorang produser eksekutif What We Do in the Shadows. “Begitu banyak komedi akhir-akhir ini adalah kisah kehidupan sehari-hari yang realistis yang membuat saya merasa sama saja,” ujarnya. “Entah tentang pasangan suami istri atau pasangan yang sudah cerai atau keluarga ini atau keluarga itu. Lalu sebenarnya, Anda bisa memperlihatkan lebih mengenai kondisi manusia dalam parodi yang gila dan konyol daripada dengan berusaha mengimitasi kehidupan.”

“Maksud saya, masih ada elemen dalam musim pertama yang bisa dikisahkan sepanjang satu musim,” ujar Paul Simms. “Namun kami menganggapnya lebih sebagai 10 episode. Saya tidak suka ketika orang televisi mengatakan, ‘Ini seperti kita membuat film dalam 10 episode.’ Tidak benar! Dan juga TV lebih baik daripada film, jadi kenapa Anda ingin membuat perbandingan semacam itu?”

“Menurut saya orang-orang menganggap TV sebagai skala yang lebih kecil,” jelas Jemaine Clement. “Namun ini sebenarnya lebih besar karena Anda bisa mendapatkan begitu banyak kisah. Namun minggu depan kita akan memberikan kisah yang berbeda, dan saya menyukainya.”

Sementara itu, kebangkitan vampir dalam budaya populer memberikan serial ini dorongan lebih. Baik hal tersebut terjadi sengaja ataupun tidak.

“Menurut saya karena itulah ini lucu,” ujar Stefani Robinson, salah seorang penulis What We Do in the Shadows. “Saya tidak tahu apakah saya sadar bahwa kami membuat komentar mengenai kondisi vampir dalam budaya pop. Namun menurut saya hal tersebut memberikan kami lebih banyak kisah untuk digali. Ini bukan vampir yang mewah, megah, dan tidak mengenakan baju yang kita ketahui. Ini mengenai kehidupan membosankan seorang vampir. Menurut saya itu lebih lucu.”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

Advertisement

Trending

Topik

To Top