Connect with us

SukaSinema

Skyscraper: Penuh Aksi Menegangkan, Namun Tidak Logis

skyscraper

Film

Skyscraper: Penuh Aksi Menegangkan, Namun Tidak Logis

Skyscraper: Penuh Aksi Menegangkan, Namun Tidak Logis

Di film Skyscraper ini, Dwayne Johnson atau lebih dikenal The Rock kembali bekerja sama dengan sutradara Rawson Marshall Thurber setelah film Central Intelligence (2016).

Di film ini The Rock berperan seabgai pria berkeluarga bernama Will Sawyer yang merupakan mantan pasukan buru sergap FBI. Ia pensiun dari pekerjaannya karena kakinya diamputasi akibat ledakan bom. Ia kemudian bekerja sebagai supervisor keamanan di sebuah gedung pencakar langit tertinggi dan teraman di dunia, The Pearl. Gedung tersebut kemudian tiba-tiba terbakar hingga ia akhirnya sadar bahwa dirinya ternyata dijebak oleh teroris yang ingin menghancurkan gedung tersebut.

The Rock sukses memerankan tokoh Will Sawyer

Sang Sutradara sangat tepat memilih The Rock untuk memerankan sosok Will Sawyer. Mantan buru sergap FBI dengan keterbatasan fisik yang pantang menyerah. The Rock sendiri selalu sukses membuat orang-orang terpana dengan aksi-aksi yang dilakukannya di dalam film. Contohnya saja adegan saat ia melompat dari crane atau merayap di kaca gedung menggunakan lakban. Apalagi ditambah dengan penokohonnya sebagai pahlawan yang memiliki keterbatasan fisik sehingga membuat penonton bersimpati padanya.

Aksi-aksi yang kurang logis dan penokohan yang kurang mendalam

Kekurangan film ini sendiri terletak pada hal-hal yang tidak logis, seperti saat Will Sawyer merayap di gedung yang sangat tinggi tanpa pengaman. Kalau dipikir secara logis, tidak mungkin jika manusia biasa bisa menaiki gedung yang sangat tinggi tanpa alat pengaman apapun. Lain ceritanya kalau Will memang punya kekuatan super atau ia memang seorang superhero seperti Spider-Man, itu bisa dimaklumi.

Belum lagi ditambah dengan penokohan yang dirasa kurang mendalam. Dari sekian banyak tokoh yang ada selain The Rock, hanya tokoh Kores Botha (Roland Møller) yang berhasil mencuri perhatian. Møller sendiri dapat bersanding dengan The Rock sebagai penjahat utama yang mampu membuat orang-orang membenci dirinya karena perannya tersebut.

Untuk tokoh lainnya, tidak ada yang istimewa. Karakter keluarga Sawyer sendiri, yakni Sarah (Neve Campbell) dan kedua anaknya hanyalah karakter figuran. Meskipun begitu, mereka sebenarnya punya peran yang penting dalam film karena menjadi motivasi bagi sang tokoh utama. Namun, sangat disayangkan tokoh yang diperankan Neve Campbell tidak digali lebih dalam di dalam cerita.

Kejanggalan lainnya terletak pada tokoh Xia (Hannah Quinlivan). Ia tampak begitu intimidatif sebagai karakter penjahat, sehingga banyak yang mengira dia adalah sosok musuh utama The Rock dalam film saat ia muncul pertama kali. Namun, lama-kelamaan ia semakin lenyap di dalam cerita, membuatnya hanya menjadi tokoh figuran.

Sebenarnya, Skyscraper tanpa kehadiran The Rock hanyalah sebua film aksi B-list yang mudah terlupakan. The Rock mampu tampil total meskipun tidak dibantu dengan dialog atau cerita yang baik.

Penampilan memukau The Rock mampu membuat penonton melupakan skrip yang bisa dibilang sangat kacau. Selain itu, ceritanya juga sangat mirip dengan Die Hard (1988), namun dalam versi medioker. Jadi, tidak heran jika ada banyak hal klise dan ketidaklogisan dari awal sampai akhir film.

Kesimpulan

Meskipun memiliki banyak kekurangan, Skyscraper bisa menjadi film hiburan yang menyenangkan, banyak adegan menegangkan dari awal hingga akhir yang membuat jantung berdebar. Film ini diberi rating PG-13, jadi tidak ada adegan kekerasan yang benar-benar kejam yang diperlihatkan di film ini.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Topik

To Top