Connect with us

SukaSinema

Jordan Peele Memperbarui ‘Nightmare at 20,000 Feet’ Untuk ‘The Twilight Zone’ 2019

Serial TV

Jordan Peele Memperbarui ‘Nightmare at 20,000 Feet’ Untuk ‘The Twilight Zone’ 2019

Jordan Peele Memperbarui ‘Nightmare at 20,000 Feet’ Untuk ‘The Twilight Zone’ 2019

Jordan Peele adalah pembuat film yang tepat untuk menghidupkan kembali The Twilight Zone. Ia berhasil mencampurkan satir kelamnya dengan Rod Sterling. Hasilnya menciptakan jembatan antara masa lalu dan saat ini, ketika ketakutan, paranoia, dan kebencian terus merajalela dalam kehidupan masyarakat Amerika. Hal ini semakin terlihat jelas dalam episode Nightmare at 30,000 Feet. Episode ini merupakan reka ulang untuk episode Nightmare at 20,000 Feet yang dulu dibintangi oleh William Shatner. Untuk episode yang diperbarui ini, desain produksi dan penyuntingannya disesuaikan untuk menunjukkan sisi Rod Sterling dan juga Jordan Peele.

Bagi desainer produksi, Michael Wylie, dan penyunting, Scott Turner, mereka menghadapi tantangan sendiri. Tantangannya adalah untuk menunjukkan gaya Rod Sterling dan juga Jordan Peele dalam satu episode ini. Berkisah tentang seorang jurnalis, Justin Sanderson yang diperankan oleh Adam Scott. Justin menderita PTSD dan menemukan sebuah podcast aneh ketika sedang berada dalam penerbangan Flight 1015. Podcast tersebut memprediksikan bahwa penerbangannya akan kecelakaan dan ia akan memiliki peran dalam membuat kecelakaan tersebut terjadi.

“Kami ingin membawa beberapa rasa aslinya,” ujar Michael Wylie. “Bukan hanya karena ini sangat familiar untuk semua orang. Namun karena kami berusaha untuk menciptakan ketidakadaannya waktu dalam acara ini. Lalu jenis pesawat yang lebih seperti jaman dulu sungguh membantu.”

Karena The Twilight Zone berada dalam dunia parallel, penonton dapat melihat desain produksinya terbelah antara yang baru dengan yang lama. Ketika bandaranya memiliki computer dan alat-alat pemindai, penonton kemudian memasuki pesawat yang terlihat tua.

“Kami ingin membuat pesawat yang merujuk pada episode [yang dibintangi William] Shatner,” tambah Michael Wylie. “Jika mereka bisa memiliki pesawat yang diarahkan secara seni dan hampir terlihat palsu, kami juga bisa.”

Pesawat Retro, Pencahayaan, dan Pengambilan Gambar

Untuk episode ini, mereka menyewa set pesawat dari Los Angeles. Set pesawat tersebut kemudian diantarkan ke tempat syutingnya di Vancouver. Di sana, set tersebut disusun ulang dan didekorasi dengan karpet jaman dulu, latar tembok, dan sarung tempat duduk.

“Anda memasuki pesawatnya dan masih ada kereta dorong minuman dan sentuhan retro lainnya,” ujar Michael Wylie. “Ia [Justin Sanderson] mendengarkan podcast dengan menggunakan alat yang terlihat seperti radio jaman dulu dengan tombol-tombolnya. Kami berpikir sangat berhati-hati mengenai desainnya agar para penonton tidak bisa memiliki rasa mengerti realitanya. Hal itu membantu menceritakan kisah ini yang terjadi pada orang-orang yang mungkin ataupun tidak mungkin terjadi.”

Pencahayaan untuk episode ini juga tergabung dalam rancangan desainnya. Lampu-lampu LED digantung sepanjang langit-langit dan sepanjang bagian atas jendela dengan konfigurasi berbeda-beda. “Setelah lampunya menyala, mereka bisa menerangkan dan menggelapkannya dan mengubah temperatur warna cahayanya,” jelas sang desainer produksi.

Lokasi syuting yang klaustrofobic juga menyerap ke dalam gaya penyuntingannya dengan ketakutan dan paranoia yang semakin meningkat. Ada banyak pengambilan gambar yang sempit dan close-up Justin Sanderson sendiri. Banyak adegan yang berpindah-pindah antara dirinya melihat penumpang lain dan ia dilihat oleh penumpang lainnya juga.

“Adam [Scott] dengan baik melakukan performanya,” ujar Scott Turner. “Dimulai sebagai seorang penumpang yang terlalu gugup dan menanjak hingga ia tidak tahu apa realita sesungguhnya. Lalu ada elemen serigala yang mencari kawanannya juga di sana.”

“Kita terkunci pada perasaannya yang selalu melakukan hal yang benar,” lanjut sang penyunting. “Lalu kemudian ia bereaksi dengan benar ketika kecurigaannya berkembang dengan cara yang disayangkan. Ia melakukan hal yang sangat menarik perhatian. Kedua halnya terjadi secara parallel: Ia berusaha untuk menyelamatkan pesawatnya agar tidak jatuh kecelakaan. Lalu kru pesawat harus menahannya agar pesawatnya tidak jatuh kecelakaan.

Menyesuaikan Podcast Dengan Suntingan

Sementara itu, mencari ritme yang tepat untuk podcastnya menjadi tantangan penyuntingannya. Dan Carlin, komentator politik dan pembuat podcast Hardcore History, meminjamkan suaranya untuk podcast aneh yang ditemukan Justin.

“Dan [Carlin] datang untuk mengisi suara cukup telat dalam prosesnya,” ujar Scott Turner. “Jadi saya menggantikannya dengan suara saya sementara untuk pengarahannya. Saya berusaha untuk membayangkan bagaimana ia akan terdengar sebagai seorang pembaca. Bergerak cukup cepat untuk menciptakan ketegangan, namun juga cukup memperlambatnya untuk menciptakan misteri. Ketika Dan datang, saya dapat melihat bagaimana ia memerankan karakternya lalu melakukannya dengan benar. Cara dia menarik penonton, terutama podcast Hardcore History-nya itu.”

Untuk kejutan ironis di pulau terpencil, sang penyunting menyatukan dan mengumpulkan rasa paranoia. Ia melakukan pengambilan gambar yang lebih lebar sebelum akhirnya mengungkapkan hasil akhirnya.

“Lalu saya sangat suka bagaimana mereka menyatukan Jordan di pantainya juga dan membuatnya berjalan ke arah kamera untuk mengakhirinya,” ujar sang penyunting. “Menurut saya itu lebih seru dan menambahkan kualitas mengerikan seperti yang dimiliki oleh Rod Sterling.”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

Advertisement

Trending

Topik

To Top